Kain Songket Berkualitas Asli Palembang ( Alma Songket )

Kain Songket Berkualitas Asli Palembang ( Alma Songket )

Kain Songket Berkualitas Asli Palembang ( Alma Songket ). INDONESIA terkenal sebagai penghasil berbagai macam songket, dan salah satunya yang terkenal adalah kain songket asal Palembang. Songket Palembang memiliki ciri khas dengan warna-warnanya yang bernuansa merah-emas dan motifnya yang indah. Ibaratnya sebuah gelar, songket layak memperoleh gelar sebagai ratunya kain tenun.

kain-songket-palembang

Kain songket merupakan warisan budaya Indonesia yang menunjukkan perpaduan antara seni dan keindahan. Teknik pembuatannya yang membutuhkan keahlian dan kecermatan menjadikan kain tenun ini bernilai jual tinggi. Bagaimana tidak, diperlukan waktu minimal 3 bulan untuk menenun helai demi helai benang sutra sebelum akhirnya menjadi selembar kain.

Kerajinan songket ini telah dimulai sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Mulanya bahan yang digunakan adalah kulit kayu, kemudian rajutan daun-daunan, dan akhirnya ditanamlah kapas sebagai bahan dasar pembuatan kain tenun. Pada abad ke-7 sampai abad ke-11 Masehi, Palembang yang dulu merupakan pusat kerajaan Sriwijaya memiliki pelabuhan yang ramai dan menjadi tempat persinggahan dari berbagai budaya seperti bangsa Portugis, India, Srilanka dan China. Persinggahan budaya tersebut secara tidak langsung mempengaruhi motif dan corak kain songket, terutama China yang memberikan pengaruh warna merah dan keemasan yang kini menjadi ciri khas songket Palembang.

Motif hias songket Palembang biasanya berbentuk geometris atau berupa aplikasi flora dan fauna yang memiliki perlambangan yg baik. Misalnya saja motif bunga melati, bunga mawar, bunga cengkeh, dan bunga tanjung yang harum melambangkan kesucian, keanggunan, rezeki, dan segala kebaikan lain.

Motif lain yang biasanya terdapat pada songket Palembang yaitu motif nago betarung, tabur limar, cantik manis (cempuk), lepus berakam, kenango makan ulet, bungo cino, bungo intan, bungo jepang, bungo pacik, biji pare, nampan perak, pulir, bintang kayu apuy, bintang berante, tigo negeri, dan lain-lain.

Ditenun dengan sepenuh hati

Bahan dasar pembuatan songket adalah benang, baik benang kapas ataupun benang sutra. Songket berkualitas baik biasanya menggunakan benang sutra putih yang saat ini masih diimpor dari China, Thailand, atau India. Adapun benang emas yang digunakan terdiri dari tiga macam, yaitu benang emas Sartibi (dari Jepang), benang emas Bangkok, dan benang emas cabutan yang berasal dari benang katun yang dicelupkan dalam larutan emas 24 karat. Benang emas cabutan biasanya diperoleh dari kain songket antik yang sebagian kainnya sudah rusak dan diurai kembali.

Sebelum ditenun, benang diberi warna dengan cara dicelupkan pada warna yang diinginkan. Dulu kain songket tradisional dicelup dengan menggunakan pewarna alami, seperti menggunakan kayu sepang dan akar mengkudu untuk mendapatkan warna merah dan kunyit untuk mendapatkan warna kuning. Pada waktu pencelupan ditambahkan pula tawas agar warnanya tidak luntur. Warna dominan songket Palembang adalah merah, namun kini kain songket memiliki warna yang lebih bervariasi karena menggunakan pewarna tekstil.

Setelah dicelup, benang kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering dimulailah proses desain (pencukitan) dengan menggunakan lidi sesuai dengan motif yang diinginkan, untuk kemudian dilanjutkan dengan ditenun. Proses penenunan ini memerlukan ketelitian, ketekunan, dan kesabaran. Menenun tidak dapat dilakukan dengan terburu-buru karena hasilnya nanti tidak bagus, sebaliknya menenun harus dilakukan dengan sabar dan sepenuh hati. Hal itulah yang menyebabkan proses pembuatan songket memerlukan waktu yang lama hingga berbulan-bulan.

Mengingat bahan baku yang masih diimpor, serta proses pembuatan yang lama dan rumit, maka tidak heran jika harga kain songket cukup mahal. Songket juga sering dijadikan barang yang bernilai tinggi sehingga dijadikan mahar, busana adat kebesaran, busana pengantin, atau menjadi koleksi keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika dirunut kebelakang, dahulu kain songket memang hanya dikenakan oleh keluarga kerajaan dan kaum bangsawan. Seiring dengan perkembangan zaman, kain songket pun mulai menyebar keluar kerajaan. Meskipun demikian, hingga saat ini sebagian besar pengrajin songket biasanya masih keturunan kerajaan atau bangsawan, karena keterampilan menenun songket memang diperoleh secara turun temurun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *